Rusja penjaga makam sekaligus penggali kubur di Komplek Pemakaman Umum Nyi Resik, Desa/Kecamatan Sindang, Indramayu, Jawa Barat.

Indramayu mediatv99.com Bagi Rusja, usia 83 tahun bukan alasan untuk berhenti mengabdi. Sejak 1998, ia menjadi penjaga makam sekaligus penggali kubur di Komplek Pemakaman Umum Nyi Resik, Desa/Kecamatan Sindang, Indramayu, Jawa Barat. Hampir tiga dekade berlalu, tubuhnya memang renta, namun kesetiaannya pada makam-makam itu tidak pernah pudar.

Setiap hari, Rusja berjalan perlahan menyusuri blok-blok pemakaman dengan tongkat kayu yang dibuatnya sendiri. Kakinya pernah sobek cukup dalam akibat tertabrak kendaraan, meninggalkan luka yang membuatnya sulit berdiri lama. Meski begitu, ia tetap membersihkan rumput, menyemprot gulma, hingga merapikan batu nisan.

Yang membuat kisahnya makin pilu, pekerjaan itu tak memberinya gaji. Tidak ada honor, tidak terdaftar BPJS, bahkan tak mendapat bantuan pemerintah. Penghasilannya datang dari keikhlasan keluarga pelayat—itu pun tak menentu.

“Kalau lebaran suka ada yang ngasih. Bisa lah dapat Rp 3 juta. Tapi cuma setahun sekali,” ujar Rusja saat ditemui, Minggu (23/11/2025).

Tinggal di Rumah Sederhana di Tengah Makam

Rusja bukan warga asli Indramayu. Ia berasal dari Brebes lalu menetap setelah menikahi perempuan Indramayu—yang kini telah meninggal dunia sejak 2005. Sejak mengabdi, ia diizinkan membangun rumah kecil di sudut area pemakaman. Di situlah ia tinggal bersama anaknya, Ade Supriyanto (30), satu-satunya yang setia menemani.

Ade membantu ayahnya membersihkan makam, memotong rumput, hingga ikut menggali kubur. Bukan karena tak mau mencari pekerjaan lain, tapi kesempatan terbatas dan ia tak sanggup meninggalkan ayahnya yang sudah terlalu rapuh.

“Selain beresin makam, saya paling bantu-bantu kalau ada panenan. Selebihnya di sini saja jagain bapak,” kata Ade.

Tak Pernah Minta Bayaran

Selama puluhan tahun bekerja, Rusja tak pernah menetapkan tarif. Ia mengaku tak tega meminta uang pada keluarga yang datang berziarah.

“Kalau dari penjaga makam ya dari tahun 1998. Gak ada gaji, mau minta ke siapa. Jadinya ya pakai uang sendiri buat beli obat rumput,” ucapnya.

Untuk menyambung hidup, Rusja menanam pisang dan bawang di lahan kosong sekitar makam. Hasilnya dipakai makan sehari-hari, sebagian lagi ia sisihkan untuk membeli obat gulma agar makam tetap terawat.

Bagi Rusja, merawat makam bukan sekadar pekerjaan—melainkan tugas moral. Karena itu, ia tak pernah merasa takut tinggal di kawasan pemakaman.

“Gak pernah lihat yang aneh-aneh. Mereka gak akan ganggu. Niat saya di sini buat ngerawat,” katanya.

Mengkhawatirkan Masa Depan Anak

Meski ikhlas pada jalan hidupnya, ada satu hal yang membuat Rusja kerap gelisah: masa depan Ade.

“Gak tahu apa ada yang mau sama anak penjaga makam. Kalau punya rezeki mah, saya pengennya punya kebun, nanem bawang,” ujar Rusja lirih.

Impian sederhana itu ia simpan karena kondisi ekonomi tak memungkinkan. Tubuhnya pun semakin lemah. Perlahan, ia mulai tak sanggup merawat seluruh area pemakaman yang luasnya ribuan meter itu.

Ia kini hanya fokus pada makam-makam yang rutin dikunjungi keluarga. Sisanya dikerjakan bertahap, ketika ia punya tenaga dan uang untuk membeli obat rumput.

“Saya gak bisa ngebayangin kalau nanti saya gak ada, siapa yang mau rawat makam di sini,” tuturnya pelan.

Bertahan Karena Doa dan Keikhlasan

Meski hidup serba terbatas, Rusja merasa selalu cukup. Menurutnya, ada saja rezeki—meski tidak selalu dalam bentuk uang.

“Alhamdulillah saja. Mungkin doa dari yang sudah gak ada. Saya juga masih diberi kesehatan di umur segini,” katanya tersenyum.

Di tengah keterbatasan, pengabdian Rusja menjadi saksi kesetiaan yang tak dihitung dengan materi. Baginya, merawat makam adalah bagian dari menghormati mereka yang telah pergi—dan itu sudah cukup menjadi alasan untuk bertahan.

(Yayank)

Related posts

Ormas pribumi Indramayu bersatu (PIB) melaksanakan kegiatan sosial bagi takjil 1000 takjil

Ormas pribumi Indramayu bersatu (PIB) melaksanakan kegiatan sosial bagi takjil 1000 takjil

OPEN DONASI UNTUK ANANDA KESYA – MARI BANTU LANGKAH MENUJU KESEMBUHAN